Wednesday, November 26, 2008

Asal muasal e pulau belitong Bag.3

Published by belitungismyheart under on 9:48 PM
Tahun 1850 Dr. J.H. Croockewit diutus oleh pemerintah Hindia Belanda
untuk mengadakan lagi penyelidikan adanya kemungkinan bijih timah di
Belitung, namun sekali lagi ia gagal dan tidak mendapat bantuan dari
Depati Rahad ataupun dari rakyat. Pada 28 juni 1851. Para eksplorer
timah berangkat dari Mentok dengan membawa surat resmi kepada Depati KA
Rahad. Mereka adalah, J.F. Loudon, Van Tuyll, Corns de Groot, dan Den
Dekker. Nampaknya Depati KA Rahad masih tetap mengatakan jika bijih
timah tidak ada di Belitung, namun tentu saja para ekplorer ini tidak
puas dan mengatakan jika misi mereka tidak berhasil maka akan ada misi
berikutnya yang akan datang sampai timah ditemukan.Den Dekker terus
mencari tahu dari penduduk dan ia mendapat keterangan jika ada seorang
melayu yang akan menunjukkan adanya timah di Beltiung, orang itu
dulunya pekerja parit timah pada KA Hatam di Cerucuk, Tuk Munir dari
Singkep. Tuk Munir lah yang menunjukkan adanya timah di dekat sungai
Seburik.Maka terbukalah rahasia yang selama ini dijaga oleh Depati KA
Rahad. Dan KA Rahad tak dapat menghindar lagi kemudian memerintahkah
kepada orang-orangnya untuk menunjukkan di mana saja ada terdapat bijih
timah. Sejak itu terjadilah kerjasama pencarian bijih timah ke seluruh
penjuru pulau Belitung dilakukan dengan didampingi oleh KA Luso dan KA
Jalil sebagai mewakili Depati.Para Pencari bijih timah yang dapat
bekerjasama dengan baik pada keluarga depati, dan penggalian-penggalian
mulai dilakukan. Kandungan timah di Belitung begitu banyak sehingga
resident Bangka mulai menunjukkan gelagat untuk mengatur Belitung.

Tahun 1852 Atas desakan J.F. Loudon, Belitung memisahkan diri dari
keresidenan Bangka dan bertanggungjawab langsung ke Batavia. Ini
merupakan satu-satunya asistent residen di Hindia Belanda yang tidak
menjadi bawahan resident.Tahun 1854 Depati KA Rahad meninggal dunia, di
makamkan di Air Labu Kembiri.

Tahun 1856-1873, Depati Cakraninggrat IX, KA Mohamad Saleh alias KA
Saleh, menggantikan abangnya KA Rahad karena tidak menurunkan putra
mahkota. Naiknya KA Saleh maka posisi kepala distrik Tanjungpandan
dipegang oleh KA Jalil.

Tahun 1856, orang-orang China mulai didatangkan secara berkala untuk menjadi pekerja parit timah di Belitung.

Tahun 1860, 15 November, perusahaan penambangan timah berdiri dengan
nama Billiton Maatschappy. Depati KA Mohamad memiliki saham atas parit
timah di Bengkuang. Parit Bengkuang ini merupakan cikalbakal lahirnya
Kota Manggar. Tahun 1864, ekploitasi timah mulai diusahakan hampir di
seluruh Belitung, pada masa ini jalan raya yang menghubungkan ke semua
distrik dibangun dibawah pengawasan KA Jalil. Pembangunan jalan ini
menghabiskan waktu 8 tahun dengan janji oleh Belanda bahwa usai
pembangunan jalan, penduduk Belitung akan disejahterakan.

Tahun 1866, Billiton Maatschappy masih terus mendatang pekerja dari
China hingga berjumlah 2724 orang. Banyaknya orang China ini maka oleh
Belanda perlu pengawasan oleh komunitas mereka sendiri. Di Wilayah
Tanjungpandan dipimpin oleh Kapten Ho A Jun dan di Manggar di pimpin
oleh seorang Letnan China serta di beberapa wilayah penambangan yang
disebut dengan “wijkmeester” . J.F Loudon juga mempekerjakan seorang
jurutulis China Phang Tjong Tjun.

Tahun 1870, di tepi Sungai Seburik dibangun dermaga tempat tambat
kapal, juga dibukanya sekolah untuk orang Tionghoa.Tahun 1870-1875,
penduduk diharuskan menanam pohon kelapa.Tahun 1870, mesjid Jami’
Tanjungpandan dibangun.Tahun 1871, didirikan gedung sositet di
TanjungpandanTahun 1872, 12 Oktober, jalan raya di seluruh Belitung
selesai dibangun dibawah pengawasan KA Jalil.

Tahun 1873, KA Saleh sudah uzur, mengundurkan diri jadi depati. Pada
tahun ini juga Pangkat Depati dihapuskan oleh Belanda. Dan semua tugas
pemerintahan dialihkan kepada KA Jalil.Tahun 1874, KA Jalil menagih
janji pada Belanda tentang kesejahteraan rakyat Belitung maka sekolah
rakyat pertama dibangun, dengan dua kelas di Tanjungpandan.

Tahun 1876, KA Saleh meninggal dunia dan tak menurunkan putra mahkota,
beliua dimakamkan dekat makam ramondanya KA Rahad di CerucukTahun 1879,
sekolah rakyat dibangun di Manggar sebanyak dua kelas.

Tahun 1879-1890, Depati Kepala Distrik Belitong, KA Endek. Setelah KA
Saleh meninggal dan pemerintahan digantikan oleh KA Jalil, tapi
kemudian Pemerintah Hindia Belanda sekonyong-konyong mengeluarkan surat
keputusan dengan Belsuit GG tgl 17 Januari 1879 No. 9, untuk mengangkat
KA Endek menjadi Depati Kepala Distrik Belitong. Keputusan ini membuat
ketidak senangan dari KA Jalil karena setelah Depati KA Saleh berhenti
dari jabatan depati, Belanda telah menyerahkan pemerintahan kepada
dirinya.Alasan pengangkatan KA Endek jelas sekali karena karir KA Endek
seorang administratur jika dibandingkan dengan KA Jalil yang menurut
Belanda hanya cakap secara adat untuk menguasai rakyatnya. Karena itu,
secara adat para ngabehi di tiap distrik hanya setia pada KA Jalil
hingga beliau meninggal tahun 1887, dan dimakamkan di pekuburan Nunuk
Tanjungpandan.

Karir KA Endek yang bekerja pada instansi Belanda dimulai menjadi
kepala polisi dengan Belsuit GG tgl 19 Agustus 1854 No.2. kemudian
menjadi Hoofd Jaksa dengan Belsuit GG tgl 26 Agustus 1867 No 5. Dengan
memakai kekuasaan KA Endek yang menjadi depati kepala kepala distrik,
Belanda menerapkan pajak kepada rakyat Belitung yaitu, Pajak kepala,
Heerendienst dan Gardoedienst. Pajak itu mulai berlaku tahun 1881.
Dengan bertambahnya pendapatan rakyat maka dikenakan pula macam-macam
cukai seperti Pachter, Candu, Arak, Babi, Perjudian, dan lain-lainnya.

Pada tahun 1890, KA Endek diberhentikan dengan Belsuit GG 5 April 1890
No.6 dan atas jasanya ia diberi lencana emas kecil yang bertuliskan
“Ngabehi KA Endek” setahun kemudian beliau berangkat ke Tanah Suci
Mekkah dan meninggal dunia di sana.

Karena kedudukan dan pangkat depati dihapuskan Belanda maka untuk
menjaga hubungan baik antara pemerintahan Belanda dengan keluarga raja
maka semua kepala distrik diangkat dari keluarga Depati Cakraninggrat,
akibatnya beberapa distrik yang sebelumnya dipimpin oleh turunan
ngabehi dihapus kekuasaannya oleh Belanda.

Pada Tahun 1890, distrik Sijuk dan Belantu dihapuskan menjadi
kelurahan. Namun Distrik baru pun dimunculkan oleh Belanda yaitu
Manggar dan Dendang. Distrik yang dipertahankan adalah Buding, Badau,
Lenggang, dan Tanjungpandan, semua kepala distrik ini digaji oleh
pemerintah Hindia Belanda.

Pada Tahun 1892, Sebutan “Ngabehi” sebagai kepala distrik dihapuskan
oleh Belanda maka mulai saat itu hanya dikenal kepala distrik saja
meski pun begitu, sebutan untuk Ngabehi kepada kepala distrik secara
adat tetap dipakai oleh rakyat, namun kemudian redup ditelan
zaman.Tahun 1896, di Manggar dibangun gereja katolik kecil di
Samak.Tahun 1898, moderninasi alat-alat perusahaan timah, adanya
lokomobil, serta hubungan telpon.Tahun 1903, adanya pesawat telegram
untuk berhubungan dengan Pulau Jawa. Tahun 1905, Distrik Kelapakampit
muncul dan penduduk pribumi Belitung menjadi 39.483 sedangkan peduduk
China berjumlah 22.670 karena itu dibutuhkan sekali untuk menempatkan
seorang “Civil Gezaghebber” di Manggar sebagai pembantu asisten
resident.

Tahun 1908, didatangkan mobil pertama ke Belitung.Tahun 1909,
pembangkit listrik dibangun di Manggar (EC)Tahun 1914-1918 pembukaan
sekolah rakyat di Sijuk, Dendang, Lenggang, serta di Tanjungpandan
dibuka H.I.S (Hollandsch Indonesische School)Tahun 1915, pencanangan
hutan cadangan, adanya pelarangan penebangan kayu di hutan lindung.

Tahun 1915, pasar Manggar terbakar seluruhnya. Tahun 1917, pembangunan
gedung sandiwara di Tanjungpandan, gedung ini kemudian menjadi bioskop
Garuda, kini pasar swalayan Puncak.Tahun 1921, harga timah merosot
setelah berakhirnya perang Dunia I, maka Hindia Belanda mengadakan
penghematan besar-besaran terhadap anggarannya

Tahun 1921, Demang pertama KA Abdul Adjis. Tepatnya tanggal 28 Juni
1921 asistent resident ALM Clignett, menjadikan Belitung Rechte
Gemeencshap Billiton, berkedudukan di Tanjungpandan dan dipimpin oleh
seorang Demang, serta asistent demang yang berkedudukan di Manggar dan
Dendang. Ini bagian dari penghematan anggaran pemerintah Hindia Belanda
sesudah perang dunia I.Tahun 1924, tanggal 9 September. Billiton
Maatschappy diubah menjadi NV GMB atau NV. Gemeenscha Pelyke Mynbouw
Maatschappy Billiton. Tahun 1926, Raad Van Beheer NV GMB mendirikan
Dana Kesejahteraan Rakyat Belitung (Bevolkingsfonds Billiton) guna
mengenang 75 tahun berdirinya Maatschappy Billiton. Dana tersebut
digunakan untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat
Belitung maka didirikan Jawatan kesehatan Rakyat, kemudian Sekolah
pertukangan (Ambaschtscursus) di Manggar.Tahun 1927, asistent resident
mengadakan sekolah desa pertama.Tahun 1929, diusahakan untuk membuat
perkebunan lada.

Tahun 1930-an Belitung tekena juga dampak krisis dunia, pertambangan
timah banyak ditutup dan para pekerja diberhentikan, termasuk
pertambangan bijih besi dan tembaga di Gunung Selumar.

Tahun 1933, 1 Maret, Belitung menjadi Onderafdeling dari dari
Keresidenan Bangka, sejak terpisah tahun 1852 karena tahun 1852
asistent resident Belitung langsung bertanggungjawab ke Batavia. Tahun
itu juga kedudukan dan pangkat “Civil Gezaghebber” di Manggar
ditiadakan.Tahun 1935, Belitung dibagi menjadi dua distrik, Belitung
Barat dan Belitung Timur masing-masing dikepalai seorang Demang.Tahun
1935, Demang membuat kebijakan membuka percobaan perkebunan, singkong,
kacang, jagung, dan pepaya yang bibitnya didatangkan dari jawa.Tahun
1936, Demang pula membuat kebijakan pembukaan sawah di Perpat, Mentigi,
tapi mengalami kegagalan.

Belitung menerima dampak perang dunia II dan harga timah melonjakTahun
1940, Jerman menduduki negeri Belanda maka Hindia Belanda mesti membuat
kebijakan sendiri.

Tahun 1941, Hindia Belanda menyatakan perang kepada Jepang.Tahun 1942,
28 Februari, Jepang melakukan serangan udara terhadap Belitung. Ini
menimbulkan kepanikan luar biasa, sekolah ditutup, orang-orang kota
bersembunyi ke hutan dan kampung-kampung. Orang Eropa dievakusi ke
Jawa, dua buah kapal yang membawa mereka ditenggelamkan.Tahun 1942, 10
April, Jepang masuk ke Belitung, pegawai NV GMB di internir. Demang KA.
Moh.Yusup ditunjuk Jepang sebagai Pengganti asistent residen untuk
waktu tiga bulan dan bertanggung jawab kepada komandan militer.Tahun
1943, Januari, sekolah-sekolah dibuka lagi, upaya mendatang bahan
makanan untuk rakyat. Perbaikan besar-besaran terjadi termasuk
pembukaan tambang-tambang timah. NV GMB dirubah menjadi MKK yaitu
“Mitsubishi Kogyoka Kaisha”. Tambang terowongan di Gunung Selumar
dibuka lagi khusus untuk menggali bijih besi dan tembaga.

Tahun 1943, peladangan padi dibangun Jepang di Perpat selama 6 bulan
dan menghasilkan 800 ton padi ladang.Tahun 1943, Jepang membuka
pelabuhan bebas, Belitung berkembang pesat dan ramai, dibuka sekolah
pertukangan perahu di Manggar. Dan perahu-perahu 50 ton ke atas
dibangun.

Tahun 1943, Pelabuhan udara di Buluh Tumbang dibangun untuk kepentingan
militer, sampai akhir perang dunia II sarana itu belum selesai.Tahun
1945, Jepang membentuk Badan Kebhaktian Rakyat yang bertugas membantu
pemerintahan jepang, badan ini dibubarkan usai perang.Tahun 1945, 6
September, pejabat kepala daerah mendapat surat kawat dari resident
Bangka, berisi tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan perintah
untuk membentuk Komite Nasional Indonesia yang bertugas mengambil alih
kekuasaan dari tangan Jepang, namun Jepang meninggalkan Belitung sudah
pada bulan Agustus. Komite belum terbentukTahun 1945, KA Moh. Yusup
pulang dari Bangka bersama dengan R.M Joedono, mengambil alih pimpinan
pemerintahan dan segera mengadakan rapat-rapat dengan pemuka rakyat,
juga tiga orang utusan Resident Bangka untuk segera membentuk Komite
Nasional Indonesia.

Tahun 1954, 18 Oktober, dengan pesawat terbang, 3 orang mantan pegawai
GMB mendarat di Tanjungpandan dan langsung menuju kantor pemerintahan
daerah yang saat itu sedang diadakan pembentukan Komite Nasinal
Indonesia, pada hari itu komite terbentuk.

Tahun 1954, 21 Oktober, Belitung diduduki tentara Belanda yang
membonceng tentara sekutu. Perintah resident Bangka untuk menyambut
mereka dengan baik, tapi masyarakat melakukan perlawan pasif. Ada
rencana melakukan perlawanan aktif yang diatur oleh R Margono, dia
mantan polisi.Tahun 1945, 24-25 Nopember pasukan rakyat dari Sijok, Aik
Selumar, Aik seruk, bergerak ke pusat kota TanjungPandan untuk menyerbu
tentara Belanda, perlawanan tak seimbang menghadapi senjata moderen
Belanda hingga ada yang gugur dan penyerbuan itu pun mundur. Atas
perlawan ini beberapa pemimpin rakyak ditangkapi oleh Belanda.

Tahun 1945, 14-19 Desember, perlawanan terhadap tentara Belanda yang
dipimpin oleh FFJ. Manusama terjadi di Pulau Mendanau, guna menghadang
pendaratan tentara Belanda yang menggunakan kapal perang “Admiraal
Trom”Tahun 1946, Belanda membentuk “Dewan Belitung Sementara” diketuai
kepala pemerintahan Belanda.

Tahun 1947, Desember, Dewan Belitung Sementara menjadi Dewan Belitung
yang beranggotan 18 orang, diketuai oleh KA Moh.Yusup. Sejak itu
Belitung menjadi otonom yang langsung berada dibawah pemerintah pusat
Jakarta. Tahun 1947, selama 4 bulan pegawai GMB mengadakan pemogokan
untuk memprotes pendudukan tentara Belanda di Belitung. Karena aksi ini
maka GMB mengadakan perubahan kebijakan terhadap pegawainya dengan
memberikan berbagai insentif. Selanjutnya melakukan modernisasi
terhadap alat-alat produksinya.

Tahun 1948, Januari, Dewan Belitung bergabung dengan Dewan Bangka dan
Dewan Riau, menjadi satu Negara Federasi BABERI (Bangka Belitung Riau)
yang disyahkan pada 23 Januari 1948. Sebagai Negara Federal Bangka
Belitung dan Republik Inonesia Serikat (RIS) mengirim utusan dalam KMB
(Konprensi Meja Bundar di Den haag Belanda, tahun 1949) mewakili Bangka
oleh Saleh Acmad dan Dr, Liem Chai Lie dan mewakili Belitung KA Moh.
Yusup.Tahun 1950, 4 April, Dewan Belitung dibubarkan bersamaan bubarnya
Negara Federal dan Belitung bergabung dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Tahun 1950, 21 April, Perdana Menteri Dr. Halim bersama
dengan Gubernur sumatera Selatan Dr. M. Isa berkunjung ke Bangka. Dan
Bangka Belitung diserahkan kepada gubernur Sumatera Selatan untuk
menjadi bagian Provinsi Sumatera Selatan. Keputusan itu baru tertuang
dalam Undang-Undang Darurat No. 3. Tahun 1956.

Tahun 1950, 27 April, Presiden Soekarno mengunjungi Belitung.Tahun
1968, 29 September, di Hotel Tanjung Kelayang diadakan rapat, dihadiri
utusan Kabupaten Bangka, Kodya Pangkalpinang, Kabupaten Belitung, guna
persiapan Pembentukan Provinsi Bangka Belitung, memisahkankan diri dari
Provinsi Sumatera Selatan, munculnya Deklarasi Tanjung Kelayang.

( Nukil dari begalor.com )

No comments: